Sabtu, 18 Agustus 2012
Soekarno – Sejarah yang tak
memihak
Posted by iman under: SEJARAH; SOEKARNO .
Malam minggu. Hawa
panas dan angin seolah
diam tak berhembus. Malam ini saya bermalam di rumah ibu
saya. Selain rindu masakan sambel goreng ati yang
dijanjikan, saya juga ingin ia bercerita mengenai Presiden
Soekarno.
Ketika semua mata saat ini sibuk tertuju, seolah menunggu
saat saat berpulangnya Soeharto, saya justru lebih tertarik
mendengar penuturan saat berpulang Sang proklamator.
Karena orang tua saya adalah salah satu orang yang
pertama tama bisa melihat secara langsung jenasah
Soekarno.
Saat itu medio Juni 1970. Ibu yang baru pulang berbelanja,
mendapatkan Bapak ( almarhum ) sedang menangis
sesenggukan.
“ Pak Karno seda “ ( meninggal )
Dengan menumpang kendaraan militer mereka bisa sampai
di Wisma Yaso. Suasana sungguh sepi. Tidak ada penjagaan
dari kesatuan lain kecuali 3 truk berisi prajurit Marinir ( dulu
KKO ). Saat itu memang Angkatan Laut, khususnya KKO
sangat loyal terhadap Bung Karno. Jenderal KKO Hartono –
Panglima KKO – pernah berkata ,
“ Hitam kata Bung Karno, hitam kata KKO. Merah kata Bung
Karno, merah kata KKO “
Banyak prediksi memperkirakan seandainya saja Bung Karno
menolak untuk turun, dia dengan mudah akan melibas
Mahasiswa dan Pasukan Jendral Soeharto, karena dia masih
didukung oleh KKO, Angkatan Udara, beberapa divisi
Angkatan Darat seperti Brawijaya dan terutama Siliwangi
dengan panglimanya May.Jend Ibrahim Ajie.
Namun Bung Karno terlalu cinta terhadap negara ini.
Sedikitpun ia tidak mau memilih opsi pertumpahan darah
sebuah bangsa yang telah dipersatukan dengan susah
payah. Ia memilih sukarela turun, dan membiarkan dirinya
menjadi tumbal sejarah.
The winner takes it all. Begitulah sang pemenang tak akan
sedikitpun menyisakan ruang bagi mereka yang kalah.
Soekarno harus meninggalkan istana pindah ke istana Bogor.
Tak berapa lama datang surat dari Panglima Kodam Jaya –
Mayjend Amir Mahmud – disampaikan jam 8 pagi yang
meminta bahwa Istana Bogor harus sudah dikosongkan jam
11 siang.
Buru buru Bu Hartini, istri Bung Karno mengumpulkan
pakaian dan barang barang yang dibutuhkan serta
membungkusnya dengan kain sprei. Barang barang lain
semuanya ditinggalkan.
“ Het is niet meer mijn huis “ – sudahlah, ini bukan rumah
saya lagi , demikian Bung Karno menenangkan istrinya.
Sejarah kemudian mencatat, Soekarno pindah ke Istana Batu
Tulis sebelum akhirnya dimasukan kedalam karantina di
Wisma Yaso.
Beberapa panglima dan loyalis dipenjara. Jendral Ibrahim
Adjie diasingkan menjadi dubes di London. Jendral KKO
Hartono secara misterius mati terbunuh di rumahnya.
Kembali ke kesaksian yang diceritakan ibu saya. Saat itu
belum banyak yang datang, termasuk keluarga Bung Karno
sendiri. Tak tahu apa mereka masih di RSPAD sebelumnya.
Jenasah dibawa ke Wisma Yaso. Di ruangan kamar yang
suram, terbaring sang proklamator yang separuh hidupnya
dihabiskan di penjara dan pembuangan kolonial Belanda.
Terbujur dan mengenaskan. Hanya ada Bung Hatta dan Ali
Sadikin – Gubernur Jakarta – yang juga berasal dari KKO
Marinir.
Bung Karno meninggal masih mengenakan sarung lurik
warna merah serta baju hem coklat. Wajahnya bengkak
bengkak dan rambutnya sudah botak.
Kita tidak membayangkan kamar yang bersih, dingin berAC
dan penuh dengan alat alat medis disebelah tempat
tidurnya. Yang ada hanya termos dengan gelas kotor, serta
sesisir buah pisang yang sudah hitam dipenuhi jentik jentik
seperti nyamuk. Kamar itu agak luas, dan jendelanya blong
tidak ada gordennya. Dari dalam bisa terlihat halaman
belakang yang ditumbuhi rumput alang alang setinggi dada
manusia !.
Setelah itu Bung Karno diangkat. Tubuhnya dipindahkan ke
atas karpet di lantai di ruang tengah.
Ibu dan Bapak saya serta beberapa orang disana sungkem
kepada jenasah, sebelum akhirnya Guntur Soekarnoputra
datang, dan juga orang orang lain.
Namun Pemerintah orde baru juga kebingungan kemana
hendak dimakamkan jenasah proklamator. Walau dalam
Bung Karno berkeingan agar kelak dimakamkan di Istana
Batu Tulis, Bogor. Pihak militer tetap tak mau mengambil
resiko makam seorang Soekarno yang berdekatan dengan
ibu kota.
Maka dipilih Blitar, kota kelahirannya sebagai peristirahatan
terakhir. Tentu saja Presiden Soeharto tidak menghadiri
pemakaman ini.
Dalam catatan Kolonel Saelan, bekas wakil komandan
Cakrabirawa,
“ Bung karno diinterogasi oleh Tim Pemeriksa Pusat di
Wisma Yaso. Pemeriksaan dilakukan dengan cara cara yang
amat kasar, dengan memukul mukul meja dan memaksakan
jawaban. Akibat perlakuan kasar terhadap Bung Karno,
penyakitnya makin parah karena memang tidak
mendapatkan pengobatan yang seharusnya diberikan. “
( Dari Revolusi 1945 sampai Kudeta 1966 )
dr. Kartono Mohamad yang pernah mempelajari catatan
tiga perawat Bung Karno sejak 7 februari 1969 sampai 9 Juni
1970 serta mewancarai dokter Bung Karno berkesimpulan
telah terjadi penelantaran. Obat yang diberikan hanya
vitamin B, B12 dan duvadillan untuk mengatasi penyempitan
darah. Padahal penyakitnya gangguan fungsi ginjal. Obat
yang lebih baik dan mesin cuci darah tidak diberikan.
( Kompas 11 Mei 2006 )
Rachmawati Soekarnoputri, menjelaskan lebih lanjut,
“ Bung Karno justru dirawat oleh dokter hewan saat di
Istana Batutulis. Salah satu perawatnya juga bukan perawat.
Tetapi dari Kowad “
( Kompas 13 Januari 2008 )
Sangat berbeda dengan dengan perlakuan terhadap mantan
Presiden Soeharto, yang setiap hari tersedia dokter dokter
dan peralatan canggih untuk memperpanjang hidupnya, dan
masih didampingi tim pembela yang dengan sangat gigih
membela kejahatan yang dituduhkan. Sekalipun Soeharto
tidak pernah datang berhadapan dengan pemeriksanya, dan
ketika tim kejaksaan harus datang ke rumahnya di Cendana.
Mereka harus menyesuaikan dengan jadwal tidur siang sang
Presiden !
Malam semakin panas. Tiba tiba saja udara dalam dada
semakin bertambah sesak. Saya membayangkan sebuah
bangsa yang menjadi kerdil dan munafik. Apakah jejak
sejarah tak pernah mengajarkan kejujuran ketika justru
manusia merasa bisa meniupkan roh roh kebenaran ? Kisah
tragis ini tidak banyak diketahui orang. Kesaksian tidak
pernah menjadi hakiki karena selalu ada tabir tabir di
sekelilingnya yang diam membisu. Selalu saja ada korban
dari mereka yang mempertentangkan benar atau salah.
Butuh waktu bagi bangsa ini untuk menjadi arif.
Kesadaran adalah Matahari
Kesabaran adalah Bumi
Keberanian menjadi cakrawala
Perjuangan adalah pelaksanaan kata kat
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar