Sabtu, 18 Agustus 2012
sosok bung karno
itengah derasnya hujan angin,
sosok bung Karno yang kala itu
masih menjadi bocah angon
berlari kecil menelusuri jalan
setapak menuju bukit gorong,
yang terletak disebelah kanan
sungai Penyu Cilacap, Jawa
tengah. Beliau membawa satu
amanat dari salah satu gurunya
KH. Rifai bin Soleh Al Yamani
(Hadrotul maut), Banyuwangi,
Jawa Timur.
Sebagai seorang pemikir handal
yang mempercayai suatu
kehidupan alam lain, beliau kerap
mengasingkan diri dalam fenomena yang tak layak pada
umumnya, yaitu selalu bertirakat dari satu gua kumuh,
bebukitan terjal , hutan belantara hingga tempat wingit
lainnya.
Kisah ini terjadi pada jum’at legi, bulan maulud 1937H.
Berawal dari sebuah mimpi yang dialaminya. Di suatu
malam, beliau didatangi seekor naga besar yang ingin ikut
serta mendampingi hidupnya. Naga itu mengenalkan dirinya
bernama, Sanca Manik Kali Penyu, yang tinggal didalam bukit
Gorong, kepunyaan dari Ibu Ratu Nyi Blorong, yang
melegendaris.
Dengan kejelasan mimpinya, Bung Karno, langsung menemui
KH. Rifai, yang kala itu sangat masyhur namanya. Lalu sang
kyai memberinya berupa amalan atau sejenis doa Basmalah,
yang konon bisa mewujudkan benda gaib menjadi nyata.
Lewat suatu komtemplasi dan prosesi ritual panjang,
akhirnya Bung Karno, ditemui sosok wanita cantik yang tak
lain adalah Nyi Blorong sendiri.
"Andika!! Derajatmu wes tibo neng arep, siap nampi
mahkota loro, lan iki mung ibu iso ngai bibit kejembaran
soko nagara derajat, kang manfaati soko derajatmu ugo
wibowo lan rejekimu serto asih penanggihan" terang Nyi
Blorong.
Yang arti dari ucapan
tadi kurang lebihnya; "Anakku!! Sebentar lagi kamu akan
menjadi manusia yang mempunyai dua derajat sekaligus
(Pemimpin umat manusia dan bangsa gaib yang disebut
sebagai istilah/ Rijalul gaib). Saya hanya bisa memberikan
sebuah mustika yang manfaatnya sebagai, ketenangan
hatimu, keluhuran derajat, wibawa, kerejekian serta
pengasihan yang akan membawamu dipermudah dalam
segala tujuan"
Mustika yang dimaksud tak lain berupa paku bumi, jelmaan
dari seekor naga sakti, Sanca Manik, yang didalam mulutnya
terdapat satu buah batu merah delima bulat berwarna
merah putih crystal.(Bisa dilihat dalam gambar atas) symbol
dari bendera merah putih/ negara Indonesia.
Sebagai sosok mumpuni sekaligus hobbiis dalam dunia
supranatural, (7) bulan, dari kedapatan mustika Sanca Manik,
beliau pun bermimpi kembali. Yang mana didalam mimpinya
sosok Kanjeng Sunan KaliJaga beserta ibu Ratu Kidul
Pajajaran (suami istri) menyuruh Bung Karno, datang ke
bukit Tinggi Pelabuhan Ratu, Sukabumi- Jawa Barat.
"Datanglah Nak ketempatku!!! Kusiapkan jodoh dari
pemberian Putranda (Nyi Blorong) yang kini telah kau terima,
tak pantas melati tanpa kembang kenanga, lelaki tanpa
adanya wanita"
Tentunya sebagai seorang yang berpengalaman dalam
pengolahan bathiniyah, Bung Karno, adalah salah satu bocah
yang sangat paham akan makna sebuah mimpi. Dalam hal
ini beliau menyakini bahwa mimpi yang barusan dialaminya
adalah bagian dari kebenaran.
Dengan meminta bantuan kepada, Kartolo Harjo, asal dari
kota Pekalongan, yang kala itu dianggap orang paling kaya,
merekapun hari itu juga langsung menuju lokasi yang
dimaksud, dengan membawa sedan cw keluaran tahun 1889.
Kisah perjalanan menuju Pelabuhan Ratu, ini cukup memakan
waktu panjang, pasalnya disetiap daerah yang dilaluinya
Bung Karno, selalu diberhentikan oleh seseorang yang tidak
dikenal.
Mereka berebut memberikan sesuatu pada sosok
kharismatik berupa pusaka maupun bentuk mustika. Hal
semacam ini sudah sewajarnya dalam dunia keparanormalan
sejak zaman dahulu kala, dimana ada sosok yang bakal
menjadi cikal seorang pemimpin, maka seluruh bangsa
gaibiah akan dengan antusiasnya berebut memamerkan
dirinya untuk bisa sedekat mungkin dengannya.
Untuk mengungkapkan lebih lanjut perjalanan Bung Karno
menuju Pelabuhan Ratu, yang dimulai pada hari Kamis pon,
ba’da subuh, Syawal 1938H, pertama kalinya perjalanan ini
dimulai dari kota Klaten Jawa Tengah.
Ditengah hutan Roban, Semarang, beliau diminta turun oleh
sosok hitam berambut jambul, yang mengaku bernama,
Setopati asal dari bangsa jin, dan memberikan pusaka
berupa cundrik kecil, berpamor Madura dengan besi warna
hitam legam. Manfaatnya, sebagai wasilah bisa menghilang.
Juga saat melintas kota Brebes dan Cirebon, beliau disuruh
turun oleh (empat) orang yang tidak dikenal
1. Bernama kyai Paksa Jagat, dari bangsa Sanghiyang,
memberikan sebuah keris berluk- 5, manfaatnya sebagai
wasilah, tidak bisa dikalahkan dalam beragumen.
2. Bernama Nyai sempono, asal dari Selat Malaka, yang
ngahyang sewaktu kejadian Majapahit dikalahkan oleh
Demak Bintoro, beliau memberikan sebuah tusuk konde
yang dinamai, Paku Raksa Bumi, manfaatnya, mempengaruhi
pikiran manusia.
3. Bernama Kyai Aji, asal dari siluman Seleman, beliau
memberikan sebuah pusaka berupa taring macan,
manfaatnya, sebagai kharisma dan kedudukan derajat.
4. Bernama Ki Jaga Rana, memberikan sebuah batu mustika
koplak, berwarna merah cabe, manfaatnya sebagai daya
tahan tubuh dari segala cuaca.
Lalu saat melintas hutan Tomo Sumedang, beliaupun
dihadang oleh seorang nenek renta yang mengharuskannya
turun dari mobil, mulanya Bung Karno, enggan turun, namun
saat melaluinya untuk terus melajukan mobil yang
dikendarinya, ternyata mobil tersebut tidak bisa jalan sama
sekali, disitu beliau diberikan satu buah mustika Yaman
Ampal, sebagai wasilah kebal segala senjata tajam.
Juga saat melintas digerbang perbatasan Sukabumi, beliau
dihadang oleh segerombolan babi hutan, yang ternyata
secara terpisah, salah satu dari binatang tadi meninggalkan
satu buah mustika yang memancarkan sinar kemerahan
berupa cungkup kecil yang didalamnya terdapat satu buah
batu merah delima mungil.
Sesampainya ditempat yang dituju, Bung Karno dan
temanya mulai mempersiapkan rambe rompe berupa
sesajen sepati, sebagai satu penghormatan kepada seluruh
bangsa gaib yang ada ditempat itu, tepatnya malam rabo
kliwon, Bung Karno, mulai mengadakan ritual khususiah
secara terpisah dengan temannya, semua ini beliau lakukan
agar jangan sampai menggangu satu sama lainnya dalam
aktifitas menuju suatu penghormatan kepada bangsa gaib
yang mengundangnya.
Dua malam beliau melakukan ritual tapa brata, dengan cara
sikep kejawen yang biasa dilakukannya saat menghadapi
penghormatan kepada bangsa gaib, lepas pukul 24.00,
seorang bersorban dan wanita cantik yang tiada tara datang
menghampirinya, mereka berdua tak lain adalah Sunan
kaliJaga dan Nyimas Nawang wulan Sari Pajajaran, yang
sengaja mengundangnya.
"Anakku!!! Dalam menghadapi peranmu yang sebentar lagi
dimulai, Ibu hanya bisa memberikan sementara sejodoh
mustika yang diambil dari dasar laut Nirsarimayu (dasar laut
pantai selatan sebelah timur kaputrennya) ini mustika
jadohnya dari yang sudah kamu pegang saat ini,gunakanlah
mustika ini sebagai wasilah kerejekian guna membantu
orang yang tidak mampu, sebab inti dari kekuataqn
yangterkandung didalamnya, bisa memudahkan segala
urusan duniawiah sesulit apapun" Lalu setelah berucap
demikian, kedua sang tokoh pun langsung menghilang dfari
pandangannya.
Kini tinggal Bung karno, sendirian yang langsung menelaah
segala ucapan dari Ibu Ratu, barusan.
Di dalam tatacara ilmu supranatural, cara yang dilakukan
oleh Bung karno, diam menafakuri setelah kedapatan hadiah
dari bangsa gaib tanpa harus meninggalkan tempat
komtemplasi terlebih dahulu, adalah suatu tatakrama yang
sangat dihormati oleh seluruh bangsa gaib dan itu
dinamakan, Sikep undur/ tatkrama perpisahan.
Dari kejadian itu Bung Karno, langsung mengambil sikap
diam dalam perjalanan pulang sambil berpuasa hingga
sampai rumah/ tempat kembali semula, cara seperti ini
disebut sebagai, Ngaulo hamba/ mentaati pelaturan gaib
supaya apa yang sudah dimilikinya bisa bermanfaat lahir dan
bathin.
Dalam kisah ini bisa diaambil kesimpulan bahwa, segala
sesuatunya bisa bermanfaat, apabila disertai kerja keras dan
tetap memegang penghormatan dalam menggunakan
apapun yang bersifat gaibiyah, bukan malah sebaliknya,
digunakan terhadap tujuan yang kurang bermanfaat atau
banyaknya berandai- andai yang mengakibatkan kita jadi
malas.
Kisah ini sudah mendapatkan ijin dari Ahlul Khosois, Habib
Umar bin Yahya, Pekalongan, habib Nawawi Cirebon, Habib
Nur, Indramayu dan Mbah Moh, dari Pertanahan Kebumen
Jawa Tengah. Semoga yang kami uraikan tadi bisa diambil
hikmah dan manfaatnya.
Sumber : misteri (idris nawawi)
Langganan:
Posting Komentar (Atom)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar